PUSTAKATA.COM, Jakarta – Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menegaskan, 418 lulusan pendidikan kepemimpinan Polri harus menjadi garda terdepan menjaga stabilitas keamanan nasional.
Itu disampaikan saat memimpin Upacara Penutupan Pendidikan Sespimti, Sespimmen, SPPK, dan Sespimma di Sespim Lemdiklat Polri, Jumat (3/7/2026).
Para lulusan diharapkan mampu menjawab tantangan tugas yang semakin kompleks dan dinamis di tengah percepatan transformasi digital.
Sebanyak 418 peserta didik resmi menyelesaikan pendidikan dari empat program berbeda. Rinciannya terdiri atas 57 peserta Sespimti, 201 peserta Sespimmen, 35 peserta SPPK, dan 125 peserta Sespimma.
418 perserta tersebut, dikembalika ke satuan masing-masing sebagai calon pemimpin Polri yang profesional dan adaptif. Pendidikan tahun ini juga memperkuat kolaborasi lintas institusi dan internasional.
Program Sespimti diikuti 47 peserta Polri, delapan peserta TNI, serta dua peserta dari Kejaksaan Agung dan Kemenimipas.
Sespimmen juga diikuti peserta mancanegara dari Timor Leste sebagai bagian penguatan kerja sama kepemimpinan.
Wakapolri mengingatkan situasi global masih dipenuhi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan persaingan antarnegara.
Dampaknya terasa pada sektor energi, pangan, logistik, hingga perekonomian dunia yang mempengaruhi Indonesia. Stabilitas keamanan yang kuat menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pembangunan nasional.
Polri memiliki peran strategis menjaga keamanan agar program pemerintah berjalan dengan baik. Program tersebut meliputi swasembada pangan dan energi, hilirisasi industri, hingga pertumbuhan ekonomi nasional.
Keberhasilan berbagai program strategis sangat bergantung pada situasi keamanan yang kondusif. Perkembangan teknologi juga mengubah lanskap keamanan yang harus diantisipasi, seperti kejahatan siber, penyebaran hoaks, disinformasi, hingga penyalahgunaan AI menjadi tantangan baru.
Wakapolri meminta lulusan meningkatkan kompetensi digital melalui penguasaan teknologi analisis data. “Pemimpin Polri masa depan harus memiliki kemampuan membaca perubahan zaman,” tegas Wakapolri.
Penguasaan AI, analisis data, dan Open Source Intelligence (OSINT) menjadi kebutuhan mendesak. Kepemimpinan adaptif dan visioner diperlukan untuk mengelola setiap dinamika secara tepat.
Ancaman terorisme dan ekstremisme masih terus berkembang melalui ruang digital. Sepanjang 2023-2026, Polri berhasil melakukan preventive strike terhadap 265 tersangka teroris.
“Zero terrorist attack selama tiga tahun berturut-turut berhasil dipertahankan oleh institusi,” tegas Wakapolri.
Seluruh jajaran tidak boleh lengah terhadap radikalisme digital dan ekstremisme kekerasan. Penguatan deteksi dini, kontra narasi, deradikalisasi, dan pengawasan siber harus terus diperkuat.
“Koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci menghadapi ancaman tersebut,” tambahnya.
Wakapolri mengutip pesan Presiden bahwa kekuatan Polri bertumpu pada kepercayaan masyarakat. Hasil Survei Litbang Kompas menunjukkan 82,4 persen masyarakat optimistis kinerja Polri.
“Rekan-rekan adalah wajah Polri di tengah masyarakat,” pesan Wakapolri kepada para lulusan.
Polri memberikan penghargaan kepada peserta didik berprestasi dalam kesempatan tersebut. Sanyata Sumanasa Wira Utama diraih Kombes Pol. Yudhis Wibisana dari program Sespimti. Penghargaan lain diberikan untuk kategori Sespimmen, SPPK, dan Sespimma kepada lulusan terbaik.
Wakapolri mengajak seluruh lulusan menjadikan bekal pendidikan sebagai modal pengabdian. Ilmu, pengalaman, dan nilai kepemimpinan harus digunakan untuk memperkuat institusi. Kepercayaan masyarakat terhadap Polri harus terus dijaga dalam menghadapi tantangan masa depan.













