PUSTAKATA.COM, Bengkulu – Dalam menjaga kesejahteraan petani dan stok pangan nasional, Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Wilayah (Kanwil) Bengkulu pada tahun ini kembali aktif menyerap gabah hasil panen petani lokal.
Penyerapan ini sesuai dengan ketetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yakni sebesar Rp 6.500 untuk Gabah Kering Panen (GKP) dan beras Rp 12.000 per Kilo Gram (Kg).
“Inisiatif ini merupakan bagian dari penugasan pemerintah kepada Bulog secara nasional pada tahun 2026, dengan target penyerapan gabah atau beras setara hingga 4 juta ton,” kata Pemimpin Wilayah Bulog Bengkulu, Dody Syahrial.
Dody menegaskan, operasi serap gabah ini lebih dari sekadar tugas logistik, karena ini juga bentuk kehadiran negara untuk melindungi petani dari gejolak harga pasar.
“Kami ingin memastikan kerja keras mereka dihargai secara pantas, sehingga semangat bertani tetap terjaga,” ujarnya yang meninjau langsung proses serapan gabah milik petani.
Menurutnya, dalam upaya memaksimalkan penyerapan dan menjamin kualitas, Bulog Bengkulu menerapkan beberapa strategi kunci. Seperti kolaborasi dengan berbagai pihak, untuk membangun koordinasi intensif.
“Seperti dengan TNI melalui Babinsa, Polri dengan Babinkamtibmas, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis baik tingkat provinsi atuapun kabupaten/kota,” ungkapnya.
Kemudian, lanjut Dody, memantauan kualitas guna memastikan gabah yang diserap berasal dari tanaman, yang telah mencapai usia panen optimal.
“Menyiapkan tim lapangan khusus dan bermitra dengan unit penggilingan untuk memperlancar administrasi dan logistik, memungkinkan petani menerima pembayaran dengan cepat dan tanpa hambatan birokrasi,” imbuhnya
Dody mengharapkan, kondisi cuaca mendukung di tengah serapan gabah atau beras yang dilakukan Bulog Bengkulu. Iklim yang baik dan curah hujan merata di Bengkulu, juga diharapkan panen petani maksimal dan serapan dapat berjalan optimal.
“Kegiatan serapan gabah yang kmai lakukan ini, ditargetkan dapat menjadi penopang ekonomi petani sekaligus menjaga stabilitas pasokan beras nasional dalam mewujudkan kemandirian pangan yang berkelanjutan,” tutupnya.
