Uji Coba KM TB Rafflesia, Signal Positif Kembali Beroperasinya Pelabuhan Pulau Baai

Uji coba KM TB Rafflesia di tengah proses pengerukan alur pelayaran Pelabuhan Pulau Baai, Mingu (13/04/2025). (Reki/PustaKata.Com)

PUSTAKATA.COM, Bengkulu – Kapal Motor (KM) TB Rafflesia milik PT. Pelabuhan Indonesia (Persero), Minggu (13/04/2025) pagi berhasil melakukan uji coba kedalaman alur setelah seminggu intensif dilakukan pengerukan.

Dengan berhasilnya uji coba KM yang memiliki draf 2,4 meter tersebut, merupakan signal positif kembali normalnya aktivitas kepelabuhan dan pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.

Wakil Ketua Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Bengkulu, Edi Hariyanto menyambut baik, berhasilnya uji coba keluar masuk pintu alur yang mengalami pendangkalan.

“Alhamdulillah, uji coba hari ini berjalan mulus. Ini langkah awal bagi KM TB Rafflesia, dan kapal-kapal besar lainnya seperti KM Pulo Tello dan Kapal Pertamina untuk bisa beroperasi normal di Pelabuhan Pulau Baai,” harap Edi.

Dia menambahkan, pengerukan rutin dan uji coba berkala mesti terus dilakukan, demi memastikan kelancaran arus logistik dan penumpang keluar masuk pelabuhan Pulau Baai.

“Ketika aktivitas kepelabuhan dan pelayaran kembali normal, maka berdampak positif pada geliat ekonomi Bengkulu,” tegas Edi.

Sebelumnya S. Joko mengungkapkan, proses pengerukan alur pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai masih terus dilakukan, dan pihaknya tidka bakal main-main dalam menindaklanjuti persoalan pendangkalan tersebut.

“Saat ini dalam pengerukan, kita telah mengerahkan 3 exavator, 1 wheel loader, 3 dump trucks, dan 1 kapal keruk Hopper Nera 02,” kata General Manager (GM) PT. Pelindo Regional 2 Bengkulu ini.

Jika kondisi alur sudah memungkinkan, barulah pihaknya mengerahkan kapal keruk berkapasitas besar. Sementara ini ditargetkan, produksi pengerukan rata-rata 1.500 m³ per hari.

Lebih lanjut, Joko mengatakan, untuk memastikan akurasi pekerjaan, PT. Pelindo juga melakukan sounding bathimetri pada 10 April 2025.

“Teknologi ini membantu mengidentifikasi titik-titik kritis, yang harus segera dikeruk,” tutup Joko.

Exit mobile version