PUSTAKATAKA.COM, Bintan – Sebanyak 50 ribu bibit Mangrove ditargetkan ditanam pada zona penyangga kawasan konservasi laut, yang merupakan program inisiatif Pahlawan Pohon (Tree Of Hero).
Bibit Mangrove tersebut ditanam di atas lahan seluas 14.000 hektar (Ha), yang bertujuan untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia tahun 2060.
Kegiatan tersebut juga sesuai dengan visi pemerintah dalam menghijaukan kembali lebih dari 12 juta Ha hutan yang terdegradasi secara bertahap demi terciptanya ekonomi hijau dan biru, ketahanan pangan, iklim serta ketangguhan masyarakat.
Penanaman 50 ribu bibit Mangrove tersebut merupakan kolaborasi antara Traveloka yang diketahui sebagai salah satu platform perjalanan terdepan di Asia Tenggara, dengan Yayasan CARE Peduli (YCP/CARE Indonesia).
Dengan kolaborasi itu, juga menginisiasi pembentukan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP), untuk mengelola beragam potensi ekonomi dari komoditas unggulan setempat.
President Traveloka, Caesar Indra menyampaikan, kolaborasi ini merupakan salah satu bentuk komitmen Traveloka di pariwisata berkelanjutan, melalui inisiatif Pahlawan Pohon, yang berfokus pada pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat lokal.
“Sebanyak 150.000 bibit Mangrove yang telah dan akan ditanam di berbagai wilayah. Seperti Kepulauan Seribu, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Pulau Bali dan Kepulauan Riau,” katanya.
“Diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap keberlanjutan lingkungan dan perekonomian lokal,” lanjut Caesar saat peluncuran program, Senin (09/12/2024).
Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, La Ode M. Faisal menyambut baik kolaborasi Traveloka dan CARE Indoesia, serta menekankan pentingnya perlindungan 14.000 Ha hutan mangrove yang tersebar di Pulau Bintan.
“Untuk mendukung kawasan konservasi di Kabupaten Bintan bermanfaat secara baik, kegiatan seperti hari ini sangat kita harapkan,” ujarnya.
Penanaman mangrove yang melibatkan masyarakat, tentu tingkat keberhasilannya lebih terjamin. Karena jika tidak didukung masyarakat, bisa ada potensi pihak yang merusak.
“Jadi dengan melibatkan masyarakat, kami sangat mendukung dan harapannya kelompok perempuan dan masyarakat yang terlibat bisa menjalankannya dengan senang hati dan mendapat hasil yang baik,” imbuh La Ode.
CEO Yayasan CARE Peduli, Dr. Abdul Wahib Situmorang menjelaskan, fokus dari program ini, yaitu pelibatan komunitas setempat, khususnya kelompok perempuan yang disebut Women Mangrove Warrior.
“Pemanfaatan dan perlindungan hutan Mangrove sudah menjadi kearifan lokal yang dilakukan masyarakat setempat. Salah satunya Suku Laut Kampung Panglong di Desa Berakit, yang memanfaatkan hasil laut berupa ikan dan kerang untuk dibuat menjadi berbagai produk olahan makanan,” jelasnya.
Menurutnya, kelompok perempuan tidak hanya dilibatkan aktif dalam upaya konservasi Mangrove melalui pembibitan dan penanaman di program ini, tetapi juga dalam penguatan ekonomi.
“Seperti literasi digital dan keuangan, serta pembuatan produk olahan dari mangrove yang memiliki nilai tambah,” tambah Abdul.
Lebih lanjut Abdul menjelaskan, terkait pembentukan KUEP yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian finansial perempuan dan pembentukan komunitas, diharapkan dapat menjadi wadah bagi kelompok perempuan untuk mengumpulkan tabungan.
“Kemudian mengakses pinjaman kecil, dan terlibat dalam pengambilan keputusan kolektif. Melalui pelatihan kewirausahaan, kami berharap kelompok perempuan dapat meraih peluang ekonomi lebih luas di luar konservasi Mangrove,” pungkasnya.
