“Pesta Babi”

Agustam Rachman

Oleh: 

Agustam Rachman

 

Selasa, 12 Mei 2026, jam menunjukkan Pukul 12.30 WIB.

“Bung, ditunggu ya di Fisipol UGM (Universitas Gadjah Mada) Pukul 13.00 siang ini, ada pesta babi,” sebuah pesan WhatsApp (WA) masuk ke Handphone (HP) ku dari Bung Afnan Malay, seorang sastrawan dan aktifis sejak muda.

Kalau pernah dengar sumpah mahasiswa maka dialah (Bung Afnan Malay) yang mencetuskannya.

Aku bergegas berkemas, dengan trail tua kesayangan meluncur ke TKP. 15 menit kemudian:

“Pasti mau nonton pesta babi ya langsung ke lantai 4 ya,” seorang satpam menyapaku ramah setiba di FISIPOL sambil menunjuk lokasi parkir di basemen.

“Wah, pak Suraji bisa aja menebak, apa karena lihat tampang saya,” ujarku tertawa membalas candaannya. Kutahu namanya karena terlihat diatas saku baju seragamnya.

Di lantai empat suasana sudah ramai. Tak kurang 300 orang rela berhimpitan sebagian berdiri menghadap layar. Bagi yang tak kebagian tempat, terpaksa keluar bergabung dengan pengunjung yang senasib diteras lantai 4.

Serombongan mahasiswa Papua memetik gitar melantunkan lagu balada. Beberapa membagikan buku Kolonialisme di Papua-nya Dr. Socratez Yoman serta selebaran berjudul Bebaskan Tahanan Politik dan Penjarakan Pelanggar HAM.

Dari beberapa yang sempat ngobrol ternyata yang hadir tak hanya mahasiswa UGM, aku bertemu dengan Susan mahasiswi dari kampus Sanata Darma, Imam alumni Amikom dan Bung Andreas Alumni ISI Yogya (Bung Andreas juga dikenal sebagai seniman mural). Beberapa dosen juga terlihat hadir.

Film Pesta Babi karya Dandhy Laksono ini memang sedang jadi perbincangan. Apalagi terjadi pembubaran paksa saat nobar film itu, misal di kampus Universitas Mataram NTB dan Ternate Tengah oleh Dandim 1501 Ternate Letkol Inf Jani Setiadi sebagaimana dikutip CNN Indonesia (12-5-2026).

Film yang berkisah tentang perjuangan masyarakat Papua melawan perusakan lingkungan dan hutan adatnya dari kolonialisme modern (meminjam istilah Dr. Socratez Yoman) dianggap tidak layak ditonton. Secara sembrono Warek III Unram NTB berucap “lebih baik nonton sepakbola saja,” ujarnya.

Seorang teman berbisik menjelang kami pulang “Akankah Indonesia runtuh? Sebagaimana hukum sejarah terjadi pada imperium Sriwijaya atau Majapahit?”.

 

*Penulis menetap di Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *