PUSTAKATA.COM, Bengkulu – Di tengah ancaman perubahan iklim yang kian nyata merusak kebun dan menghantui kehidupan, secercah harapan ditorehkan para perempuan petani kopi dari 20 desa di Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong Provinsi Bengkulu.
Dengan keteguhan hati, mereka tidak hanya memilih untuk bertahan, tetapi juga bangkit dengan menggalang kekuatan kolektif. Langkah nyata mereka dimulai dengan bersurat kepada bupati kedua kabupaten tersebut, untuk meminta difasilitasi membangun kebun kopi tangguh iklim.
Tak hanya berupa selembar surat, tetapi juga disertai dengan rekomendasi yang ditandatangani bersama, sebagai sebuah seruan agar masa depan kopi dan kehidupan mereka tidak runtuh diterpa cuaca ekstrem.
Perjuangan tersebut dilakukan sebanyak 40 perempuan petani kopi dari 20 desa di Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong, dan mereka bersepakat untuk menyatukan suara.
Itu pun setelah serangkaian diskusi terfokus yang diadakan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu pada Agustus 2025, mereka sepakat menandatangani surat permintaan kepada dua bupati.
Inti permintaannya jelas, yakni meminta pemerintah daerah (Pemda) dapat memfasilitasi pembangunan Kebun Kopi Tangguh Iklim di desa mereka yang sejauh ini telah dirintis.
Kebun kopi tangguh iklim ini bukanlah konsep asing. Tapi itu merupakan bentuk perlawanan dengan kembali kepada kearifan lokal yang ramah lingkungan. Para perempuan ini berkomitmen menerapkan pola polikultur (beragam tanaman).
Kemudian tidak membakar sampah kebun, serta memanfaatkan rumput dan ranting sebagai mulsa dan pupuk organik. Mereka juga akan menggunakan pestisida nabati, membuat lubang angin (mini rorak), dan kolam penampungan air hujan.
“Kami ingin perempuan petani kopi lainnya juga bisa melihat dan merasakannya,” ujar Ketua Koppi Sakti Bengkulu, Supartina Paksi yang pupil matanya tampak membesar dan menandakan sebuah semangat.
Seruan ini lahir dari kepahitan yang harus ditelan. Perubahan iklim tidak lagi sekadar isu, melainkan kenyataan pahit yang merusak tanaman dan membebani hidup. Batang kopi mudah tercabut, bunga gugur sebelum jadi buah, serangan hama baru makin ganas dan buah juga menjadi mudah busuk.
Bagi perempuan petani, dampaknya lebih dalam lagi yakni beban kerja bertambah, tekanan ekonomi keluarga menggunung, kerentanan terhadap kekerasan dalam rumah tangga meningkat, bahkan tradisi turun-temurun seperti ‘ganti hari’ dan ‘menyemang kopi’ terancam punah.
Namun, keputusasaan itu mulai terjawab dengan bukti nyata. Sebanyak 257 perempuan perintis di empat desa telah memulai pembangunan Kebun Kopi Tangguh Iklim di lahan seluas 292 hektare. Hasilnya, meski masih dalam proses, sudah terlihat jelas.
“Batang kopi lebih kokoh, daun lebih hijau dan rimbun, bunga lebih lebat, dan buah terasa lebih berat,” sebut Supartina menggambarkan perubahan positifnya. Tidak hanya pada tanaman, semangat hidup para perempuan petani pun ikut tumbuh.
Mereka merasa lebih optimis, hubungan keluarga lebih harmonis, dan yang terpenting, kebanggaan sebagai perempuan petani kopi kembali menguat.
Berdasarkan pembelajaran ini, Koppi Sakti Bengkulu tak hanya membawa surat permintaan, tetapi juga dokumen Rekomendasi Kebijakan yang akan diserahkan langsung kepada Bupati Kepahiang dan Bupati Rejang Lebong.
“Perhatian pemerintah daerah selama ini cenderung terfokus pada pengolahan hasil dan pemasaran. Padahal, kami punya hak, kepentingan, dan peran dalam pengelolaan kebun kopi itu sendiri,” jelas Sekretaris Koppi Sakti Bengkulu, Mercy Fitry Yana.
Mereka merekomendasikan agar pemerintah segera membuat kebijakan dan program khusus yang memfasilitasi pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan bantuan untuk memberdayakan perempuan petani kopi membangun kebun tangguh iklim.
“Kami sudah menyampaikan surat permohonannya. Kami berharap Bupati Kepahiang dan Bupati Rejang Lebong bersedia menerima kami,” imbuh Mercy penuh harap.
Perjuangan para perempuan petani kopi Bengkulu ini, merupakan sebuah testament bahwa di balik kerentanan, ada ketangguhan. Dengan menggali kembali kearifan lokal dan didukung kebijakan yang inklusif, mereka tidak hanya menyelamatkan mata pencaharian.
“Tatapi ini juga upaya kami dalam melestarikan warisan budaya dan menjamin keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang,” pungkasnya.
