Songsong Pilkada 2024, Masyarakat Bengkulu Harus Bijak Pilih Pemimpin

Feri Van Dalis

Oleh: Feri Van Dalis

Tahun 2024 menjadi momen penting bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Bengkulu karena menghadapi penyelenggaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 27 November 2024.

Tahapan kampanye telah dimulai sejak 25 September dan berlangsung hingga 23 November. Di tengah euforia demokrasi ini, penting bagi semuanya untuk tetap bijaksana dan penuh kehati-hatian dalam memilih pemimpin.

Sebagai bagian dari Tim Pemenangan Pemuda ROMER (Rohidin Mersyah-Meriani), pihaknya ingin mengajak masyarakat Bengkulu untuk cermat menilai calon pemimpin, khususnya dalam Pilgub Bengkulu.

Pertama, kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menelusuri rekam jejak para calon pemimpin secara mendalam. Di era digital ini, jejak digital tak mudah hilang, dan bisa menilai kinerja serta integritas calon pemimpin berdasarkan informasi yang ada.

Salah satu contoh penting adalah rekam jejak Calon Gubernur (Cagub), Helmi Hasan yang telah menjabat sebagai Walikota Bengkulu selama dua periode (2013-2023).

Berbagai polemik yang melibatkan kepemimpinan sosok tersebut terekam jelas, dan seharusnya menjadi bahan pertimbangan bagi seluruh elemen masyarakat Bengkulu. Rekam jejak tersebut bisa diakses melalui platform digital.

Memilih pemimpin bukan hanya soal retorika dan citra, tetapi soal rekam jejak nyata yang bisa diukur melalui prestasi dan kontribusinya terhadap masyarakat.

Kedua, Bengkulu memiliki banyak tokoh yang kompeten dan siap memimpin dengan tulus demi kemajuan daerah. Jadi harus diwaspadai pihak-pihak luar yang hanya datang, dan justru untuk memanfaatkan sumber daya alam Bengkulu tanpa memerhatikan kesejahteraan masyarakat.

Jangan sampai masyarakat terpecah belah, akibat adanya sosok yang sangat bernafsu untuk berkuasa. Jadi masyarakat Bengkulu, harus bersatu dan bijak dalam memilih pemimpin.

Ketiga, perlu dicermati berbagai polemik dan kasus yang belum terselesaikan selama kepemimpinan Helmi Hasan, saat mejabat sebagai Walikota Bengkulu.

Seperti kasus SAMISAKE 2013 yang melibatkan empat tersangka, dengan perkembangan terbaru pada 2022. Penggusuran Pedagang Pasar Subuh ke Pasar Barukoto pada 2013, yang hingga kini masih sepi pengunjung dan banyak toko tutup.

Masalah pengelolaan sampah yang belum terselesaikan dari 2013 hingga 2023. Program salat berjamaah dengan hadiah umroh dan mobil pada 2014 yang dinilai kontroversial.

Kasus Bansos 2015, di mana Helmi Hasan sempat ditetapkan sebagai tersangka dan menjadi buronan Kejari Kota Bengkulu. Kasus aset lahan KORPRI seluas 8,6 hektar yang menjadi sengketa pada 2019.

Kasus robohnya wisata Kota Tuo Pasar Bengkulu yang hingga kini masih dalam penyelidikan, dan masih ada beberapa permasalahan lainnya yang bisa diakses melalui platform digital.

Dengan fakta-fakta rekam jejak tersebut, masyarakat harus bijak dan mempertimbangkan secara matang apakah pemimpin yang meninggalkan berbagai persoalan layak diberi amanah dan kepercayaan untuk memimpin Bengkulu ke depannya.

Dalam suasana Pilkada 2024 ini, masyarakat harus jeli melihat apakah calon pemimpin benar-benar memiliki niat yang tulus untuk membangun Bengkulu, atau hanya sekadar berambisi meraih kekuasaan.

Pilkada bukanlah ajang untuk mengejar janji-janji manis atau keuntungan pribadi, melainkan kesempatan bagi masyarakat untuk memilih pemimpin yang benar-benar mampu mengangkat kesejahteraan dan pembangunan daerah.

Bengkulu ini membutuhkan pemimpin yang ikhlas, terbuka untuk berdiskusi, serta tidak emosional dalam menghadapi kritik atau masukan.

Sebagai penutup, kami berharap Pilkada 2024 menjadi momentum bagi masyarakat Bengkulu untuk memilih pemimpin yang terbaik. Pilihlah dengan hati-hati, berdasar pada rekam jejak yang jelas dan niat yang tulus.

*Penulis merupakan Juru Bicara Tim Pemenangan Pemuda ROMER

Exit mobile version