World Press Freedom Day, Bertahan di Tengah Efisiensi Negara

Oktaliansyah

Oleh:
Oktaliansyah

SETIAP 3 Mei diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day), dan menjadi momen untuk menegaskan kembali pentingnya pers yang bebas, independen, serta plural.

Di Indonesia, peran media lokal yang biasa disebut UMKM media, termasuk bagian penting dari ekosistem demokrasi. Mereka hadir di garis depan, menyuarakan aspirasi warga dan penyeimbang informasi kebijakan, khususnya di daerah-daerah.

Namun, kini UMKM media dihadapkan pada gelombang ombak baru, efisiensi anggaran negara. Pemerintah mulai memangkas sejumlah anggaran yang selama ini menjadi sumber pemasukan bagi media, termasuk belanja publikasi dan promosi instansi.

Ini sejalan dengan kebijakan pengetatan fiskal, demi menjaga stabilitas ekonomi dan pengendalian defisit.

Dikutip dari UGM News, Pengamat Media dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Wisnu Martha Adiputra menyebutkan, efisiensi bisa menjadi peluang untuk mendorong media lebih mandiri.

Saat anggaran publikasi dipangkas, media punya kesempatan untuk kembali ke nilai-nilai jurnalisme sejati, tanpa terlalu bergantung pada belanja iklan pemerintah.

Efisiensi itu memberi dampak langsung pada struktur media. Bahkan Metrotvnews memaparkan, sepanjang 2023–2024, lebih dari 1.200 jurnalis kehilangan pekerjaan. Banyak di antaranya berasal dari media lokal dan kecil atau biasa disebut UMKM Media.

Namun menariknya, media-media UMKM yang selama ini tidak pernah menikmati ‘kue’ yang bersumber dari anggaran publikasi dan promosi, justru bertahan lebih baik.

Mereka telah terbiasa hidup mandiri, mengandalkan relasi komunitas dan jurnalisme berbasis kedekatan sosial.

Sempat muncul dipermukaan dugaan sebagian oknum mencoba memonopoli anggaran publikasi dan promosi pemerintah, menyebabkan pembengkakan anggaran daerah untuk belanja media.

UMKM media yang tak ikut dalam lingkaran itu hanya bisa gigit jari. Kini, ketika efisiensi menjadi arus utama, justru media-media tersebut tetap eksis.

Sebaliknya, media yang selama ini menikmati kucuran anggara besar mulai goyah, karena tidak siap menghadapi kemandirian bisnis.

Dalam harian.news, Ilham Husein, Ketua SMSI Sulawesi Selatan mengatakan, media termasuk UMKM media, harus tetap mendapat perhatian negara. Media adalah UMKM juga. Harus diberi ruang, karena mereka adalah garda depan informasi dan demokrasi.

Hari Kebebasan Pers Sedunia tahun ini memberi ruang refleksi untuk semua, bahwa kebebasan pers bukan hanya soal bebas bicara, tetapi juga soal daya tahan, independensi, dan inovasi.

UMKM media Indonesia mungkin tak besar, tapi mereka adalah akar rumput informasi yang tetap tumbuh meski diterpa badai efisiensi.

Selamat Hari Kebebasan Pers Dunia 3 Mei 2025

*Penulis merupakan wartawan di UMKM Media di Provinsi Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *