PUSTAKATA.COM, Tokyo – Belantara Foundation bersama APP Japan Ltd. (APPJ) tampil di ajang bergengsi SDGs Week-EcoPro 2024 di Tokyo Big Sight, Jepang.
Dengan mengusung program unggulan Forest Restoration Project: SDGs Together, mereka mengajak dunia untuk bergandengan tangan memulihkan hutan tropis Indonesia, khususnya di Provinsi Riau.
Melalui proyek yang dimulai pada tahun 2020 ini, Belantara Foundation bersama APPJ memperlihatkan aksi nyata pemulihan lahan terdegradasi.
Proyek ini mengandalkan pendekatan agroforestry, yang tidak hanya memulihkan fungsi ekologis hutan tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar melalui pemanfaatan hasil hutan non-kayu.
Dalam empat tahun, tim kolaborasi ini berhasil menanam dan merawat lebih dari 43.901 pohon di area seluas 94 hektar. Mereka juga melibatkan berbagai pihak seperti KPHP Minas Tahura dan Kelompok Tani Hutan Sultan Syarif Hasyim (KTH SSH).
Tujuannya untuk memastikan keberlanjutan program melalui pembangunan rumah pembibitan, patroli hutan, hingga pemberdayaan masyarakat setempat.
Tak hanya jumlah pohon yang menginspirasi, jenis-jenis pohon yang ditanam pun merupakan spesies langka dan dilindungi, seperti Ramin (Gonystylus bancanus) yang masuk kategori kritis (Critically Endangered).
Kemudian Merawan (Hopea mengarawan) dan Balangeran (Shorea balangeran) yang rentan (Vulnerable). Ini menjadi langkah nyata dalam melindungi keanekaragaman hayati dunia.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna menekankan, restorasi ekosistem merupakan misi global. Di mana program ini sejalan dengan UN Decade on Ecosystem Restoration 2021–2030, yang menargetkan perbaikan masif ekosistem terdegradasi.
“Kami mengadopsi pendekatan kolaborasi multipihak, termasuk menggandeng sektor swasta Jepang, agar visi no one left behind dari SDGs bisa terwujud,” ujar Dolly.
Mewakili APPJ, Tan Ui Sian menyoroti pentingnya pameran ini sebagai ajang untuk menggalang dukungan luas dari multi-stakeholder.
“Kami ingin melibatkan lebih banyak pihak, tidak hanya di Jepang tetapi juga dunia internasional, untuk mendukung program ini,” katanya.
“Program ini tidak hanya relevan dengan SDGs 12 (Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan), tetapi juga SDGs 13 (Aksi Iklim), SDGs 15 (Ekosistem Daratan), dan SDGs 17 (Kemitraan Global),” tambah Tan Ui Sian.
Sementara Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan mengatakan, kawasan konservasi Tahura Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH) yang luasnya mencapai 6.000 hektar, telah mengalami tekanan besar akibat perambahan liar.
“Kolaborasi ini menjadi tumpuan penting dalam pemulihan Tahura SSH. Kami tak hanya menanam pohon, tapi juga melibatkan masyarakat agar hasilnya berkelanjutan, sekaligus mendukung target Pemerintah Indonesia dalam menurunkan emisi karbon,” paparnya.
Pameran SDGs Week – EcoPro 2024 yang diselenggarakan Nikkei Inc. ini menjadi platform global bagi perusahaan, institusi, dan pemerintah untuk memamerkan inovasi berkelanjutan.
Dengan target 60.000 pengunjung, acara ini menjadi ajang penting bagi Belantara Foundation dan APPJ untuk menginspirasi langkah nyata menuju dunia yang lebih hijau.
Melalui kolaborasi lintas negara ini, Belantara Foundation dan APPJ membuktikan bahwa restorasi hutan bukan sekadar proyek lokal, tetapi komitmen global untuk menyelamatkan bumi.













